Antum Ikhlas..? Jahat Iya..!!

Hey kamu… Iyya, Antum.. alias kamu..!

Sampeyan, sudah diciptakan sempurna sebagai makhluk Tuhan berlabel manusia koq rasa-rasanya kurang bahkan jauh dari manusiawi yah. Sudah kurang bersyukur malah diperburuk dengan sifat yang selalu berani dan lantang tentang keikhlasan diri. “Aku tuh ikhlas, ikhlas khlas..khlas, seikhlas-ikhlasnya”. __mbell.. 

Apa sieh makna ikhlas buat kamu..?

Kalo ikhlas yang benar-benar ikhlas, ya mbok jangan gini toh yooo..??

Gambar uang, duit, fulus di atas tuh… Monggo lihat dan cermati dengan seksama dan dalam tempo selama-lamanya.

Lembaran-lembaran seribu rupiah itu saya dapatkan dengan segarnya dari tangan anak-anak pengemis yang belanja di kios saya. Dimana pengemis itu pula, dengan mata kepala saya sendiri, baru saja mendapatkannya dengan cara ngemis di perempatan atau di lampu merah (bangjo) depan kios saya. Real.. Asli.. Suerr..!!

Dan itupun bukan dari satu anak dan satu orang (yang merasa paling mulia) memberikan lembaran itu. Tapi dari beberapa anak dan saya juga lihat sendiri dari beberapa tangan pemberi.

Astaghfirullah….

Maaf, ini kesimpulan saya pribadi. Sampeyan itu bukan ikhlas, tapi jahat.

Dan saya disini sebagai pengusaha (pemilik kios) adalah korban yang sebenarnya dari sifat jahat sampeyan yang ikhlas itu. Bisa jadi korban-korban yang lain itu ada anak-anakmu, ayah-ibumu, kakak-adikmu, pakdhe-budhemu, om-tantemu ataupun anggota keluarga besarmu yang lain. Bisa juga tetangga atau mertua kamu. Ataupun mereka, saudara-saudara lain (beda bapak-ibu) yang tersebar di muka bumi ini yang memiliki toko atau berprofesi sebagai pedagang.

Sadarlah kawan, pengemis-pengemis itu sekadar ‘talang air’ dari peredaran mata uang di dunia ini. Uang berjenis kelamin dan bernama seindah apapun hanya numpang lewat di tangan mereka. Langsung digunakan, langsung untuk belanja, langsung untuk makan. Jadi, uang kotor atau sucipun “gak pake lama” sudah berpindah tangan ke saudara-saudara kita yang berprofesi pedagang. Baik itu kios, toko sampai warung makan.

Sampeyan jahat dan tega berikan lembaran-lembaran kusam itu kepada para pengemis. Lantas, apakah kami harus juga ikut menjadi jahat (seperti Anda) dengan menolak apapun transaksi dengan uang-uang lusuh itu..? Mereka butuh makan, butuh sesuatu dari apapun yang kita jual tho. Sama persis dengan sampeyan, belanja untuk kebutuhan hidup.

Monggo dihayati dan diresapi.. dan Jangan ngasih kalo cuman ngasih uang-uang jelek. Itu jahat.. jauuuuuhh dari yang namanya ikhlas. Mending ndak usah ngasih aja, kalo ndak punya uang yang layak. Cukup lambaikan tangan yang santun dan tentunya dipermanis dengan senyuman terbaik kamu, kan beresss. Senyum juga sedekah, bukan..?!

Udah ngasih uang jelek, minta kembalian… wah parah… ampuuunnnn..

Maturnuwun.. semoga Allah tak henti-hentinya angerahkan rezeki yang berkah untuk kita semua. Jangan lupa sering bersyukur yah, karena Allah sudah menjanjikan tambahan nikmat jika kita senantiasa bersyukur.


Berlebihankah saya menyebut kurang manusiawi atau jahat..?

Kira-kira, sampeyan juga merasa ikhlas ngasih uang-uang jelek kepada tukang parkir, ya..??!

Monggo dijawab sendiri.