Aku yang Terima Kasih

Aku yang seharusnya ngucapin makasih.

Saya lah yang harus berterima kasih padamu.

Kalimat ini sudah nyaris tak terdengar oleh telinga kita. Kenapa..? Bagaimana bisa ada terdengar kalimat itu, jika kita sendiri juga (bahkan) tidak pernah mengatakannya.

Kita mungkin sering memberikan sesuatu kepada orang lain, apapun itu. Baik merupakan hak atau memang sudah menjadi kewajiban kita sendiri untuk memberikan sesuatu itu. Si Penerima sudah biasa untuk mengucapkan “Terima kasih”. Dan kita Si Pemberi juga hanya terbiasa sekadar mengucap “Yaa..” atau kadang kali ada frase tambahan “Yaa, sama-sama”.

Kita akui bersama, kita masih sering terlena oleh kearifan dari apapun kebaikan-kebaikan yang kita haturkan kepada orang lain. Kita selalu merasa cukup dengan menutup kebaikan demi kebaikan itu dengan merasa ‘sudah’ ikhlas.

Yakin nih.., ikhlas..?
Benar-benar ikhlas benar, Kawan..?

Mungkin nggak sieh, kita tambahkan frase tambahan yang lebih menjadi satu kalimat yang lengkap. Tentunya dengan harapan dapat hilangkan noda-noda yang mengotori keikhlasan yang sebelumnya kita yakini sudah ikhlas seikhlas-ikhlasnya.

“Iyya, sama-sama. Harusnya aku malah yang terima kasih sama kamu. ……”

__sekadar lamunan lalu